|
Ditulis Oleh joko ismoyo
|
|
Rabu, 31 Desember 2008 |
|
Sejak ditemukan sepuluh tahun yang lalu i pada 1998 di Pantai Manado Tua. kan Raja Laut atau lazim disebut Coelacanth yang menjadi ikon dari pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) 2009, membuat nama Indonesia menjadi buah bibir di kalangan peneliti ikan di seluruh dunia, khususnya ikan purba. Ikan, dengan panjang sekitar 130 cm, lebar 46 cm dengan bobot sekitar 50 kg, yang dianggap sudah punah 65 juta tahun silam ini ditemukan hidup-hidup oleh Yustinus Lahama dan anaknya Delfi Lahama, nelayan dari Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang. Pada Sabtu, 19 Mei 2007 telah ditemukan kembali Ikan Raja Lau untuk yang kedua kalinya. Namun disayangkan, ikan coelacanth tersebut akhirnya mati pada hari Minggu 20 Mei 2007 pk. 01.00 WITA setelah sekitar 17 jam bertahan hidup. Kini ikan tersebut sedang dalam proses pengawetan dan akan digunakan untuk penelitian. Coelacanth (pisces latimeriidae) pertama kali muncul dalam kehidupan sekitar 400 juta tahun silam dalam bentuk fosil. Setelah sekitar 70 juta tahun lalu ikan ini tidak ditemukan lagi, sehingga para ahli menduga ikan itu telah punah. Ikan purba ini panjangnya bisa mencapai 2 meter dengan berat 100 kilogram. Ikan ini tidak bertelur, tapi melahirkan anak. |
|
Ditulis Oleh joko ismoyo
|
|
Minggu, 21 Desember 2008 |
|
Mendekati musim hujan, yang mulai turun beberapa hari belakangan, kita khususnya warga Surakarta mulai dihantui rasa was-was akan datangnya banjir. Banjir yang seolah-olah sudah menjadi langganan saat hujan turun, memang benar-benar merepotkan. Surakarta yang merupakan kota transit, seharusnya malu karena tiap tahun kebanjiran. Masih terbayang oleh kita banjir banding yang terjadi tahun 2008, dimana hamper seluruh jalan-jalan utama di Surakarta terendam air. Saat itu pemerintah mengatakan ini sudah menjadi siklus lima tahunan, akan tetapi setelah tahun 2007 banjir terus saja menghampiri, siklus lima tahunan sekarang berubah menjadi siklus tahunan. Para ahli mengatakan kalau ini semua terjadi karena pemanasan global (global warming), entah itu benar atau tidak tetapi prilaku kita terhadap lingkungan sekitar kita juga mempengaruhi. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, mendirikan bangunan didaerah resapan air. Lihat saja daerah Tawangmangu sekarang banyak sekali villa-villa illegal yang berdiri, padahal daerah tersebut sebagai daerah resapan air dalam mengurangi resiko banjir,. |
|
Ditulis Oleh joko ismoyo
|
|
Kamis, 18 Desember 2008 |
Kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Search and Rescue (SAR) yang digelar Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Gopala Valentara, Fakultas Hukum (FH), Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, kemarin memakan korban jiwa. Aris Wijaya,18, mahasiswa semester 1 Fakultas Hukum, tewas saat mengikuti kegiatan yang digelar di Dusun Tlogodlingo, Desa Gondosuli,Kecamatan Tawangmangu,Karanganyar. Diduga korban yang beralamat di Desa Bokoharjo, RT 05/32, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman,itu tewas karena kelelahan. Informasi yang dihimpun menyebutkan,kegiatan Diklatsar yang digelar di kawasan Gunung Lawu ini dilakukan sejak tanggal 12 hingga 17 Desember. Pada hari terakhir kegiatan sekitar pukul 09.00 WIB,peserta yang berjumlah delapan orang diminta panitia Diklatsar untuk lari ke basecamp satu yang berlokasi di lapangan Dusun Tlogodlingo. Malam sebelumnya para peserta melakukan kegiatan survival. |
|
Ditulis Oleh wicak
|
|
Selasa, 02 Desember 2008 |
Malam itu, kebetulan tanpa bintang, aku baru saja pulang dari kantor. Ngantuk, buru-buru kulepas sepatu. Belum sempat membersihkan diri, istriku menyampaikan berita. »Mas
sore tadi mas Agung bolak-balik telepon. Jarene ono hal penting sing pingin diomongke!» ujar istriku bercerita. «Mas Agung siapa?» tanyaku menegaskan karena banyak Agung di sentraya. Ada Agung Lupus, Agung Junior, Agung SR dan entah Agung-agung siapa lagi yang muda-muda kini. «Mas Agung KGB!» «Oya
ya udah deh besok pagi aja kutelepon. Udah malem!» jawabku agak malas karena lelah. Paginya aku terlupa untuk kembali menelpon. Baru agak siang aku ingat untuk segera menelpon. Sungguh memprihatinkan. Ternyata Agung baru saja mendapat cobaan yang cukup serius. |
|