|
joko ismoyo
|
|
Selasa, 04 Desember 2007 |
Pemasangan banner raksasa oleh aktivis Greenpeace di PLTU Jepara berlangsung tegang. Adu mulut, pentungan, dan bahkan tembakan sempat mewarnai aksi tersebut. Ketegangan mulai terjadi saat 10 aktivis Greenpeace hendak naik tower untuk memasang banner berukuran 20 kali 30 meter di PLTU Tanjung Jati B di Desa Tubanan, Kembang, Jepara, Sabtu (1/12/2007). Meski dihalang-halangi, enam aktivis sukses menaiki tower setinggi 60 meter dan memasang banner bertuliskan «coal kill climate» itu. Sebagian aktivis menahan petugas yang hendak naik tower Sesaat setelah banner terpasang, beberapa petugas keamanan PLTU berhasil naik tower dengan menggunakan sedikit «kekerasan» seperti teriakan, pentungan, dan tembakan peringatan |
|
wicak
|
|
Selasa, 20 November 2007 |
|
Sudesha Sarkar, seorang psikhiatris yang mempelajari para pendaki selama lebih dari empat tahun untuk meneliti kepribadian mereka di Kathmandu mengatakan, gen menentukan siapa yang bisa mendaki Everest. Keberhasilan mendaki puncak-puncak tertinggi sangat tergantung dari gen dan kepribadian orang tersebut. Jadi kita gak perlu ngotot dan maksa-maksa seseorang untuk mau mendaki apalagi memaksanya untuk sampai mendaki sampai ke puncak jika ternyata orang tersebut memang secara genetika tidak memiliki gen seorang pendaki. Percuma
pasalnya gen adalah sifat bawaan yang tidak bisa dibangun dan dikembangkan dari luar. Tak perlu juga kita memaksa seseorang atau organisasi untuk melakukan ekspedisi pendakian puncak-puncak tertinggi yang monumental kalau ternyata memang gen anggota organisasi tersebut bukanlah gen pendaki seperti yang diungkapkan Sudesha di atas. Biarlah saja semua berjalan alami. Kalau memang orang tersebut memiliki gen pendaki maka tak perlu lagi kita paksa maka secara intuitif maka orang tersebut akan selalu dan terus berusaha untuk melakukan pendakian-pendakian yang tanpa sadar didorong oleh sifat gen mereka sendiri. |
|
joko ismoyo
|
|
Senin, 22 Oktober 2007 |
|
Satu persatu tumpukan karung buah salak itu ia pindah dari mobil ke dalam gudang. Sudah seringkali kulit keras buah salak itu menusuk punggungnya namun ia hanya bisa meringis menahan sakit. Pekerjaan belum usai namun tenaga sudah hampir habis, sementara sang matahari masih bersemangat menghujani sinarnya ke tubuh kurus tersebut. Tuginem, nama perempuan pemilik tubuh kurus tersebut, namun jangan kaget, umurnya baru kepala empat, tepatnya baru 40 tahun. Sudah lebih dari 20 tahun Tuginem bekerja sebagai buruh gendong di pasar Bringharjo, jogjakarta. Selama itulah keringat, debu dan panas telah menjadi kawan akrabnya dalam memenuhi kebutuhan hidup. |
|
joko ismoyo
|
|
Kamis, 08 November 2007 |
Setiap tanggal 5 November, bangsa ini memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN). Sayangnya, peringatan yang dilakukan setiap tahun ini tidak mengurangi ancaman terhadap flora dan fauna di Indonesia. Bahkan dari waktu ke waktu, kepunahan berbagai macam flora fauna yang kita miliki terus bertambah. Indonesia yang selama ini dikenal sebagai «mega diversity» kini telah berubah menjadi «mega extinction.» Artinya tingkat kerusakan atau kepunahan flora fauna kita saat ini amat sangat besar. Ancaman utamanya adalah keserakahan manusia yang tanpa peduli memperlakukan berbagai flora dan fauna, hanya melihat sisi ekonominya saja tanpa memperhitungkan kerugian ekologis di masa mendatang. Beberapa jumlah yang terancam punah diantaranya dari kelompok Orang Utan dan Harimau Sumatera. Sedangkan Harimau Jawa dan Harimau Bali sudah dinyatakan punah. Beberapa spesies yang juga menghadapi ancaman kepunahan diantaranya 104 jenis burung, 57 jenis mamalia, 21 jenis reptil, 65 jenis ikan tawar, dan 281 jenis tumbuhan. |
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|