|
Budi Jatmiko
|
|
Rabu, 05 Maret 2008 |
|
Malam itu seorang teman ber-SMS, “Anakku arep lahir, ada ide nama?”, Karena temen butuh emergency nama (mungkin daripada di beri nama sekenanya) lantas akupun turut berpikir keras untuk urun nama… |
|
joko ismoyo
|
|
Selasa, 05 Pebruari 2008 |
|
Sepertinya gak ada habis habisnya cerita tentang kota Solo tercinta ini. Baru saja bulan Desember lalu Kota Solo dan sekitarnya terkena musibah banjir dan longsor, hari ini peristiwa ini kembali terjadi. Kalau mau di runut satu persatu kok malah njlimet nyari jawabannya. Jangan jangan bencana ini memang ga perlu dicari alasan dan penyebabnya. Tapi kalau sekedar bercerita tentang kota Solo yang kebanjiran pasti masih menarik. Sebenarnya sih sepele saja. Kota Solo saat ini sudah menuju ke kota metropolitan. Pembangunan fisik mercu suar sangat luar biasa perkembangannya. mulai dari mall, gedung gedung perkantoran sampai dengan pavlingisas. Akibatnya, tanah yang di daulat sebagai peresap air sekarang malah banyak nganggur nya deh. |
|
joko ismoyo
|
|
Senin, 31 Desember 2007 |
|
Perjalanan ini, terasa sangat menyedihkan,
Sayang engkau tak duduk, disampingku kawan. Banyak cerita, yang mestinya kau saksikan,.. Di tanah kering berbatuan. Penggalan lagu Ebiet G Ade rasanya semakin sering terdengar saja. Entah apakah Ebiet sudah membaca tanda tanda bahwa bangsa kita ini akan selalu tertimpa bencana. Atau mungkin ini hanya serba kebetulan. Entahlah,.. Peristiwa banjir dan tanah longsor yang terjadi di hampir se karesidenan Surakarta semakin membuka mata hati kita bahwa ada yang salah pada diri kita. Secara sadar kita sudah ikut andil dalam menghancurkan alam. Ini yang kedua kalinya aku datang ke lokasi longsor. Yang pertama aku ke Banjarnegara dan kali ini aku ke Tawangmangu. Pandangan pertama yang aku lihat hanyalah hamparan tanah merah seluas lapangan bola. Kalau saja aku tidak diberitahu kalau sebelumnya disitu ada belasan rumah berdiri, mungkin aku sudah bermain bola di atasnya. |
|
wicak
|
|
Jumat, 28 Desember 2007 |
|
Indonesia yang terletak di antara pertemuan tiga lempeng: lempeng Pasific, Indo-Australia, dan Eurasia serta tak ketinggalan sebagai jalur The Pasific Ring of Fire menjadikan Indonesia negara dengan 240 gunung api dengan 70 di antaranya masih aktif. Banyaknya pegunungan terutama gunung api di Indonesia mendorong banyak pendaki untuk menjelajahinya. Namun sayangnya, minim sekali panduan tertulis bahkan di kalangan para pendaki itu sendiri. Akibatnya, tidak jarang banyak pendakian yangmenelan korban yang dikarenakan persiapan yang tidak sesuai dengan meda yang hendak dituju. Harley Bayu Sastha, penulis sekaligus pendaki ini benar-benar merasakan betapa butanya para pendaki pemula jika tidak dipandu guide saat melakukan pendakian. Oleh sebab itu buku ini dituliskan sebagai panduan bagi para pendaki. Dituliskan secara detail dan sarat pengalaman pribadi ini pasti akan sangat membantu mereka yang hendak memeluk salah satu puncak dunia. |
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|